Begini Cara RS M Djamil Padang Tangani Pasien Terlantar
Ia menambahkan, keterlibatan Baznas juga menjadi bagian penting dalam rencana kolaborasi tersebut. Dukungan dari lembaga filantropi diharapkan dapat membantu mengatasi kebutuhan pasien yang tidak sepenuhnya dapat diselesaikan melalui pelayanan medis maupun intervensi pemerintah, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan sosial tertentu sesuai dengan ketentuan.
“Kolaborasi dengan Baznas juga sangat penting karena dalam kondisi tertentu pasien membutuhkan dukungan sosial. Kita ingin semua potensi yang ada dapat disinergikan, tentunya sesuai dengan tugas, fungsi, kewenangan, dan regulasi masing-masing,” lanjutnya.
Dalam koordinasi bersama Pemko Padang melalui Bagian Kerja Sama, RS M. Djamil juga mendorong penguatan mekanisme komunikasi dan koordinasi ketika ditemukan pasien terlantar yang keterkaitan dengan wilayah Kota Padang. Hal tersebut diperlukan agar proses penanganan dilakukan secara terintegrasi dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Sementara itu, koordinasi dengan Pemprov Sumbar menjadi bagian dari upaya memperluas sinergi pada tingkat regional. Sebagai rumah sakit rujukan yang melayani pasien dari berbagai kabupaten dan kota di Sumbar maupun wilayah sekitarnya, RS M. Djamil menghadapi situasi pasien terlantar yang memiliki latar belakang dan persoalan sosial yang beragam.
Kondisi tersebut membuat penanganannya membutuhkan dukungan lintas wilayah. Tidak semua pasien yang terlantar berasal dari Kota Padang, sehingga diperlukan koordinasi dengan pemerintah daerah asal pasien, untuk memastikan proses penelusuran keluarga, pemenuhan kebutuhan sosial, maupun tindak lanjut pasien dapat dilakukan secara tepat.
“Karena RS M. Djamil rumah sakit rujukan, pasien yang kita layani berasal dari berbagai daerah. Maka koordinasi ini juga penting agar ketika ada pasien terlantar yang berasal dari kabupaten atau kota tertentu, kita memiliki jalur komunikasi yang jelas dengan pemerintah daerah terkait,” jelas Ade.
Menurutnya, kerja sama yang sedang dimatangkan tidak semata-mata menyelesaikan persoalan pasien terlantar di rumah sakit, tetapi juga menjadi langkah membangun sistem penanganan yang lebih baik ke depan.
Melalui kerja sama lintas sektor tersebut, RS M. Djamil berharap penanganan pasien terlantar dapat dilakukan dengan pendekatan lebih komprehensif. Pasien tetap ditempatkan sebagai pusat perhatian, sementara masing-masing pihak menjalankan perannya sesuai dengan kewenangan dan kapasitas yang dimiliki.
“Harapannya, dengan adanya kerja sama ini, pasien terlantar dapat ditangani lebih manusiawi, terkoordinasi dan berkelanjutan. Rumah sakit tidak berjalan sendiri, pemerintah daerah tidak berjalan sendiri, begitu juga dengan Baznas. Semua pihak saling menguatkan untuk memberikan solusi terbaik bagi pasien,” tukasnya.(rel/swa)