Kini Banyak Ditemukan pada Usia Muda, Gubernur Sumbar Ingatkan Ancaman Kanker Kolorektal
Menurut Mahyeldi, perubahan pola hidup salah satu faktor yang turut mendorong peningkatan kasus kanker kolorektal. Konsumsi makanan olahan dan daging merah berlebihan, rendahnya konsumsi serat, serta kurangnya aktivitas fisik faktor risiko yang perlu diantisipasi sejak dini.
“Ada ketidakseimbangan antara apa yang kita konsumsi dengan energi yang kita keluarkan. Karena itu, pola hidup sehat harus menjadi perhatian bersama agar risiko berbagai penyakit, termasuk kanker, dapat ditekan,” tuturnya.
Ia menambahkan, upaya pencegahan melalui edukasi dan deteksi dini perlu terus diperkuat, agar kasus kanker dapat ditemukan lebih cepat dan ditangani secara optimal.
“Pembangunan kesehatan tetap menjadi salah satu prioritas Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Penguatan SDM kesehatan, pengembangan teknologi kesehatan, dan kolaborasi dengan berbagai institusi harus terus ditingkatkan,” tegas Mahyeldi.
Pada kesempatan itu, Mahyeldi juga menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan RSUP Dr. M. Djamil Padang sebagai bagian dari jejaring ASEAN Center of Excellence di bidang Minimal Invasive Colorectal Surgery.
Menurutnya, keberadaan pusat unggulan tersebut kebanggaan bagi Sumbar, sekaligus peluang besar meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami berharap pusat unggulan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi tenaga medis, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang modern, berkualitas, dan berstandar internasional,” katanya.
Mahyeldi menyebut Pemprov Sumbar terus mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan di seluruh daerah, termasuk pengembangan RSUD Mohammad Natsir menjadi rumah sakit tipe A guna memperkuat sistem layanan rujukan di Sumbar.
“Kami ingin masyarakat Sumatera Barat mendapatkan layanan kesehatan terbaik tanpa harus keluar daerah. Karena itu, peningkatan kualitas rumah sakit dan tenaga kesehatan akan terus menjadi fokus pembangunan daerah,” ujarnya.
Mahyeldi berharap simposium internasional tersebut mampu memperkuat kolaborasi antara rumah sakit, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan pemerintah dalam menghadirkan layanan kesehatan yang semakin berkualitas bagi masyarakat.
“Pelayanan kesehatan yang berkualitas investasi bagi masa depan bangsa. Karena itu, penguatan kompetensi dan kolaborasi harus terus kita dorong bersama,” tutup Mahyeldi.(swa)