Gawat, 58 Persen Lansia Tekanan Darahnya di Atas Normal, 51 Persen Kelebihan Berat Badan
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebugaran fisik melalui aktivitas sederhana seperti berjalan kaki atau berolahraga minimal 30 menit sehari selama lima hari dalam seminggu. Aktivitas fisik terbukti membantu menjaga fungsi organ tubuh, memperbaiki sirkulasi darah, dan mempertahankan kemandirian lansia.
Selain pelayanan kesehatan, pemerintah juga mendorong penguatan sistem perawatan jangka panjang (long-term care) berbasis keluarga dan komunitas. Pendekatan ini dinilai penting mengingat semakin banyak lansia yang membutuhkan pendampingan dan perawatan di rumah.
“Ukuran kemajuan bangsa bukan hanya seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga siapa yang kita lindungi sepanjang perjalanan. Lansia bukan beban, melainkan aset bangsa yang harus dijaga kesehatan, fungsi, dan martabatnya,” tegas dr. Benjamin.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, dr. Maria Endang Sumiwi, mengatakan, Kemenkes terus memperluas layanan kesehatan ramah lansia melalui transformasi layanan primer.
Hingga saat ini, 8.911 puskesmas telah menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang melayani siklus hidup, termasuk kelompok lansia. Selain itu, 9.013 puskesmas telah menyelenggarakan layanan perawatan jangka panjang dan 7.887 puskesmas telah menjadi puskesmas ramah lansia.
Hasil pemeriksaan kesehatan terhadap sekitar 6,8 juta lansia juga menunjukkan sejumlah faktor risiko kesehatan yang masih perlu menjadi perhatian. Sebanyak 95 persen lansia tercatat kurang melakukan aktivitas fisik, 58 persen memiliki tekanan darah di atas normal, dan 51 persen mengalami kelebihan berat badan.
“Data ini menunjukkan, upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit harus terus diperkuat agar lansia Indonesia dapat tetap sehat, aktif, dan mandiri,” kata dr. Endang.(rel/swa)