Kehadiran Sekolah Rakyat Memutus Rantai Kemiskinan, Cetak Generasi Emas 2045
Menurutnya, para siswa mendapatkan asupan makanan bergizi, fasilitas asrama, hingga laptop sebagai media pembelajaran karena sistem pendidikan telah menerapkan Learning Management System (LMS) berbasis digital.
"Anak-anak memperoleh makanan bergizi, laptop sebagai media pembelajaran, dan sistem belajar sudah berbasis teknologi. Kami ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang melek digital dan siap bersaing," kata Wildan.
Wildan juga mengungkapkan SRT 3 Dharmasraya menjadi Sekolah Rakyat permanen pertama di Sumbar, bukan sekolah rintisan. Pemerintah pusat menargetkan pembangunan 100 Sekolah Rakyat permanen setiap tahun hingga mencapai 500 sekolah pada 2029.
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani menyebut kehadiran Sekolah Rakyat bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan kesempatan yang setara kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Ia mengungkapkan, tahun ajaran 2026/2027 diikuti sebanyak 390 siswa, terdiri dari 268 siswa asal Dharmasraya, 60 siswa dari Kabupaten Solok, 60 siswa dari Kota Padang, serta masing-masing satu siswa dari Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Bukittinggi.
Annisa juga menceritakan kisah seorang anak bernama Rehan yang baru mengenyam pendidikan di usia 10 tahun setelah diterima di Sekolah Rakyat. Baginya, kisah tersebut menjadi bukti, program ini membuka kembali harapan bagi anak-anak yang sebelumnya kehilangan akses pendidikan.
"Inilah fungsi Sekolah Rakyat. Negara hadir memberi kesempatan yang sama kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu agar mereka bisa bermimpi menjadi orang sukses, memutus rantai kemiskinan, bahkan menjadi pemimpin bangsa di masa depan," ujar Annisa.
Mengakhiri kegiatan, Mahyeldi secara resmi membuka MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya dan meninjau ruang kelas dan asrama. Ia berharap sekolah tersebut menjadi pusat lahirnya generasi Sumatera Barat yang cerdas, berkarakter, mandiri, berdaya saing, serta mampu menjadi pemimpin masa depan Indonesia.(swa)